Ulama Penulis Sirah Nabawiyyah

Sekarang ini telah banyak buku sirah yang dicetak dalam versi bahasa Indonesia yang dapat digunakan untuk rujukan, diantaranya :

– Sirah Nabawiyah, Penulis : Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury.

– Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw, Penulis : K.H Moenawar Chalil.

– Binayah wa Nihayah, Penulis : Ibnu Katsir.

– SIRAH NABAWIYYAH” (Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah), Penulis : Ibnu Hisyam.

– SIRAH NABAWIYYAH”, Penulis : DR. Ali Muhammad Ash-Shallabi

 

Jadi apa manfaat penulisan ini ?

Teringat aturan konsumsi obat antibiotik, yaitu harus dikonsumsi secara teratur dan dimakan sampe habis.

Demikian pun dengan Sirah Nabawiyyah; akan berkhasiat, bila dikaji secara urut dan teratur kisahnya dan dikaji sampai habis/tuntas, dari awal kenabian sampai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam wafat.

Mengkaji Sirah Nabawiyyah sebetulnya mudah, cuma cobaannya aduhai 🙂

Melihat buku tebel, kadang mata susah sekali diajak komprominya. Atau kalo lagi mood bagus, kenceng banget bacanya, tapi bila mood hilang, lenyap pula pembatas bukunya. Belum kalau ada hal-hal yang tidak kita pahami, mau tanya ustadz malah segen, dipendem sendiri malah ngga nemu solusi, googling malah nemu khilafiah yang kurang mencerahkan. Belum lagi godaan rutinitas kegiatan sehari-hari yang seabreg.

Hihi…banyak banget ya godaannya …

tulisan ini, mudah-mudahan menjadi alternatif solusi.

Cukup rutin baca topik Sirah yang nanti kami posting di web ini (Insya Allah sebelum mata terlelap sudah selesai bacanya :), kemudian bertanya bila ada yang tidak dipahami dan untuk mengukur pemahaman ikuti quiz yang diposting.

Insya Allah bila rajin membaca, pemahaman tentang kehidupan Nabi dapat dipahami secara utuh. Paham akan latar belakang kejadian, paham pula atas dasar pengambilan keputusan yang diambil, so kita pun ngga akan diombang-ambingkan oleh opini yang simpang siur yang sekarang mudah sekali beredar. Insya Allah !

Buku mana yang penting di baca ?

Buku apapun bisa, asal rujukannya jelas dan logis.
Mengapa logis? Karena saat ulama sirah menyusun sirah nabawiyyah sebetulnya mereka menyusun dari potongan puzzle-puzle kisah yang sangat berserakan. Ada yang shohih, dhoif, kisah israiliayat atau bahkan hoax.

Ulama sirah kemudian mengumpulkan periwayatan itu semua agar benang merah alur kisahnya tersusun rapih dan kemudian mereka komentari tingkat dari periwayatannya.

Sepanjang potongan puzzle kisah itu tidak bertentangan dengan hukum syar’i dalam Al-Qur’an dan hadits shohih, maka kisah israiliyat pun biasanya ulama sirah masih mencantumkannya untuk kepentingan tersusun kisah yang utuh.

ULAMA PENULIS SIRAH

Generasi ke-1 :
Urwah bin az-Zubair bin al-Awwam, Abban bin Utsman bin Affan, Syurahbil bin Sa’ad, Wahab bin Munabbih.

Generasi ke-2 :
Ashim bin Qatadah al-Anshari, Muhammad bin Muslim az-Zuhri, Abdullah bin Abu Bakar al-Anshari.

Generasi ke-3 :
Musa bin Aqabah al-Madani, Ma’mar bin Rasyid al-Yamani, Muhammad bin Ishaq bin Yasar kitabnya *Sirah Ibnu Ishaq*.

Generasi ke-4 :
Ziyad al-Bakkai, Al-Waqidi, Ibnu Hisyam, Muhammad bin Sa’ad kitabnya Ath-Thabaqat, ath-Thabary kitabnya Tarikh Ath-Thabari.

Kitab-kitab yang ditulis oleh ulama generasi ke-1 dan ke-2 sayangnya sekarang sudah hilang, hanya nama-namanya saja yang masih bisa kita temukan pada buku tulisan ulama sirah generasi setelahnya.

“Tulislah sebuah kitab sejarah mulai dari pertama kali manusia diciptakan Allah sampai hari ini,” demikian perintah Khalifah Al-Mansyur pada Ibnu Ishaq saat itu.

Maka dilaksanakanlah perintah tersebut dan kemudian kitab Sirah Ibnu Ishaq disimpan menjadi arsip Amirul Mukminin. Ibnu Ishaq wafat tahun 152 H.

Setengah abad kemudian Ibnu Hisyam menyempurnakan kitab Sirah Ibnu Ishaq tsb, yang dikenal dengan kitab Sirah Ibnu Hisyam.

Kitab tersebut kemudian menjadi referensi acuan utama ulama sirah setelahnya hingga sekarang.

Leave a Reply