Periode Nubuwah

Periode Nubuwah terjadi saat Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul Allah sampai beliau wafat.

Ada 2 periode Nubuwah, yaitu :

🔸 Periode sebelum hijrah ke Madinah, disebut *Periode Mekkah*. Periode ini berlangsung selama 13 tahun. Wahyu yang turun pada periode ini disebut ayat Makiyyah.

🔸 Periode setelah hijrah ke Madinah, disebut *Periode Madinah*. Periode ini berlangsung selama 10 tahun, yaitu sejak hijrah ke Madinah sampai dengan beliau wafat. Wahyu yang turun pada periode ini disebut ayat Madaniyah, sekalipun wahyunya turun di Mekkah.

 

##🌿🌼🌿##

*PERIODE MEKKAH*

 

*Diangkat Menjadi Rasul Allah*

Menjelang 40 tahun, Muhammad sering berpamitan pada istrinya yang bernama Khadijah untuk mengasingkan diri di Gua Hira, yang terletak di Jabal/ Gunung Nur.

Dengan berbekal makanan dan minuman secukupnya, beliau berjalan kaki ke arah timur laut kota Mekkah, dimana tempat beliau tinggal bersama anak-anak dan istrinya.

Kemudian Muhammad mendaki jalan sempit yang terjal di gunung yang memiliki ketinggian 200 meter.

Jangan membayangkan Jabal Nur seperti kebanyakan gunung-gunung yang ada di Indonesia. Jabal Nur mirip sebuah bongkahan batu raksasa yang disekitarnya sangat gersang dan tidak akan dijumpai pohon sama sekali.

Gua Hira yang dipergunakan oleh Muhammad, adalah sebuah gua kecil dan sempit di sela-sela bongkahan batu besar. Tinggi gua kira-kira 2 meter, sedangkan luas gua hanya dapat dihuni tiga orang tidur berdempetan.

Sekeliling gua suasana sangat sunyi, jauh dari keramaian kota. Hanya saja dari mulut gua Muhammad masih dapat melihat kelap-kelip lampu yang dipakai penerangan kota Mekkah pada saat itu di waktu malam.

Di tempat seperti itulah Muhammad sebelum diangkat menjadi Rasul Allah sering menghabiskan waktunya untuk menyendiri melakukan tafakur, yaitu perenungan terhadap keagungan alam sekitarnya sambil memikirkan zat yang Maha Kuasa yang mengendalikan alam tersebut.

Hingga pada suatu malam pada bulan Ramadhan, yang diyakini malam itu bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan, pada saat usia beliau menginjak empat puluh tahun lebih, Malaikat Jibril menemui Muhammad, seraya berkata, “Bacalah !”
Muhammad menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

Kemudian Malaikat Jibril memegang dan memeluk Muhammad, kemudian melepaskan beliau dan berkata lagi, “Bacalah!”
Dan dijawab lagi oleh Muhammad, “Aku tidak bisa membaca.”

Hingga tiga kali, Malaikat Jibril tersebut memberikan perintah yang sama dan dijawab dengan jawaban yang sama pula oleh Muhammad.

Dan kemudian malaikat Jibril membacakan surat Al-Alaq ayat 1 – 5 yang diikuti oleh Muhammad dengan hati yang bergetar.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS.Al-Alaq : 1-5)

Kejadian malam itu adalah kejadian yang sangat luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad khususnya dan umat beliau umumnya, karena malam itu merupakan tonggak sejarah diangkatnya Nabi Muhammad menjadi utusan Allah (Rasulullah) sebagai pembawa kabar risalah (Nabi) bagi seluruh umat manusia. Dan surat Al-Alaq ayat 1 – 5 adalah ayat pertama Al-Qur’an yang diturunkan pada beliau.

Dengan perasaan gemetar karena takut, Nabi Muhammad yang kini telah mendapat tugas sebagai Rasulullah segera pulang ke rumahnya.

“Selimuti aku, selimuti aku !” demikian Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam meminta diselimuti oleh istrinya.

Setelah tenang, baru beliau dapat menceritakan kejadian yang telah dialaminya di Gua Hira.

Dengan penuh perhatian Khadijah mendengarkan dan kemudian menghiburnya, bahwa itu adalah pertanda baik dari Allah bagi suaminya, yang senantiasa menjaga silaturahim, menolong yang kesulitan serta memuliakan dan menjamu tamu.

Untuk lebih menenangkan perasaan suaminya, maka Khadijah mengajaknya ke rumah Waraqah ibnu Naufal, anak seorang paman Khadijah.

Saat itu usia Waraqah telah lanjut dan kedua matanya telah buta. Beliau adalah seorang pemeluk agama Nasrani yang taat dan sebelum matanya buta beliau sangat pandai membaca dan menulis tulisan Ibrani serta berguru ke ahlul kitab di wilayah Syam.

“Wahai anak saudaraku, apakah gerangan yang menimpamu ?” demikian Waraqah bertanya pada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam.

Maka Nabi Muhammad menceritakan apa yang telah dilihat dan dialaminya.

Mendengar cerita itu Waraqah berkata, “Itulah Namus (Jibril) yang telah Allah turunkan pada Musa. Seandainya aku masih muda dan kuat pada masa itu (masa dimana Rasul memulai dakwahnya). Andaikan saja aku masih hidup tatkala kaummu mengusirmu.”

“Apakah mereka akan mengusirku ?” Rasulullah bertanya untuk lebih menegaskan pernyataan Waraqah sebelumnya.

Waraqah menjawab : “Ya, benar sekali. Tak seorangpun yang pernah membawa seperti yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Andaikan aku masih hidup saat itu, maka aku akan menolongmu dengan sungguh-sungguh.”

Tidak lama setelah kedatangan Rasulullah ke rumahnya, Waraqah pun meninggal dunia, niatnya untuk membela Rasulullah saat dimusuhi kaumnya tidak kesampaian, tapi insya Allah niat mulianya telah menjadi amal sholeh yang dicatat malaikat.

=============

🗂  Sumber utama :

💫 Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/ Tafsir, M.Hasbi Ash Shiddieqy

💫 Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, KH. Moenawar Chalil

Leave a Reply