Periode Kenabian Rasululloh SAW

PERIODE KEHIDUPAN NABI MUHAMMAD ﷺ

Nabi Ismail Alaihissalam adalah merupakan kakek buyut dari Nabi Muhammad ﷺ.

Beliau pernah bersabda : “Sesungguhnya Allah telah memilih Ismail menjadi anak Ibrahim dan Dia telah memilih keturunan Kinanah menjadi keturunan Ismail dan dia telah memilih Quraisy dari keturunan Kinanah dan Dia telah memilih Hasyim dari Quraisy, dan Dia telah memilih aku dari keturunan Hasyim.” (HR. At-Turmudzi)

Ibnu Abbas r.a berkata : “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam apabila menceritakan nasabnya, tidaklah melebihi dalam menceritakan nasabnya dari Ma’ad bin Adnan bin Udad, kemudian beliau berhenti dan bersabda, “Dustalah orang-orang yang membuat-buat nasab.” (HR. Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asakir)

Jadi Nabi Muhammad betul keturunan Nabi Ismail, hanya saja nasab dari Nabi Ismail sampai Adnan sudah tidak diketahui lagi, yang diketahui adalah nasab dari Adnan sampai dengan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam.

Berdasarkan perubahan hukum yang berlaku, ada 3 periode kehidupan Nabi Muhammad ﷺ, yaitu periode sebelum kenabian, Periode Mekkah dan Periode Madinah.

1⃣ *PERIODE SEBELUM KENABIAN*

Kelahiran Muhammad saw (Senin pagi, 9 Rabi’ul Awwal th Gajah atau 20/ 22 April 571 M). Saat itu ayahandanya, Abdullah bin Abdul Muthalib telah wafat.

Nabi Muhammad bayi disusui oleh ibundanya, Aminah danTsuwaibah, budak dari Abu Lahab.

Sesuai kebiasaan Bangsa Arab saat itu, Muhammad kecil disusui dan dibesarkan di perkampungan. Ibu susu berikutnya adalah Halimah bin Abu Dzu’aib dari Bani Sa’d bin Bakr. Diasuh oleh keluarga tersebut sampai usia 4 atau 5 tahun, pasca pembelahan dada yang dilakukan oleh malaikat.

Usia 4 atau 5 tahun sampai 6 tahun, Muhammad kecil kembali dalam pengasuhan ibunya, Aminah.

Usia Nabi Muhammad 6 tahun, Ibunya wafat di Abwa, saat perjalanan pulang dari Madinah menuju Mekkah, sepulang berjiarah ke kuburan ayahanda nabi di Madinah.

Usia 6 th sampai 8 th, dalam pengasuhan kakeknya, Abdul Muthalib.

Usia 8 th sampai baligh, pengasuhan diserahkan pada pamannya, yang bernama Abu Thalib.

Usia 12 th, untuk pertama kalinya Nabi Muhammad ikut rombongan Kafilah Dagang ke Syam bersama pamannya, Abu Thalib.

Menjelang sampai ke Syam, kafilah dagang singgah terlebih dahulu di Busra. Di sana ada rahib yang bernama Bahira/ Jurjis yang menghampiri rombongan sembari berkata : “Orang ini adalah pemimpin semesta alam. Anak ini akan diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Abu Thalib bertanya : “Dari mana engkau tahu akan hal itu ?”
Rahib : “Aku dapat mengetahuinya dari cincin nubuwah yang berada di bagian bawah tulang rawan bahunya, yang menyerupai buah apel. Aku mengetahui itu di dalam kitab kami.”

Rahib meminta agar Abu Thalib menjaga Muhammad, karena khawatir orang-orang Yahudi di Syam mengetahui tanda itu dan kemudian mencelakainya.

Pada saat Nabi Muhammad berusia 15 tahun terjadi Perang Fijar, yaitu peperangan antar suku.

Keterlibatan beliau pada perang itu adalah mengumpulkan anak panah bagi paman-pamannya untuk dipakai menembak musuh.

Usia remaja sampai dengan 25 tahun, beliau bekerja menggembala kambing orang Mekkah.

Beliau pernah bersabda :
“Allah tidak mengutus seorang Nabi melainkan dia pernah mengembala kambing.” Para sahabat bertanya, “Dan engkau, ya Rasulullah ?” Beliau bersabda, “Dan aku sudah pernah juga mengembala kambing milik orang Mekkah dengan menerima upah yang tidak seberapa banyaknya.” (HR. Bukhari)

Usia 25 th, Nabi Muhammad memberanikan diri untuk berdagang ke negri Syam. Barang dagangan dari saudagar kaya, Khadijah.

Pergilah beliau dengan rombongan ditemani pembantu Khadijah bin Khuwailid yang bernama Maisarah.

Perdagangannya pun menghasilkan keuntungan yang besar.

Khadijah terkagum-kagum atas akhlak mulia Nabi Muhammad.

2 bulan sepulang dari Syam, Khadijah mengutus Nafisah binti Munyah, untuk mengabarkan bahwa bahwa Khadijah bersedia dipinang oleh Muhammad.

Akhirnya pernikahan pun disepakati.
Keluarga besar calon Nabi membawa mas kawin 20 ekor unta.

Saat usia Nabi Muhammad 35 tahun, Ka’bah direnovasi. Saat akan meletakkan hajar aswad di tempatnya terjadi perselisihah.

Perselihan terjadi selama 4 atau 5 hari. Semua merasa sebagai orang yang paling berhak mendapat kehormatan meletakkan Hajar Aswad ke tempat semula.

Akhirnya Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al Makhzumy mengusulkan akan solusi perselisihan diserahkan pada orang yang pertama kali masuk lewat pintu mesjid, dan ternyata orang itu adalah Muhammad Al-Amin.

Nabi Muhammad pun mengajukan solusinya, yaitu meletakkan hajar aswad di tengah selendang dan ujung-ujung selendang diangkat oleh pemuka kabilah yang berselisih, setelah dekat Ka’bah, Hajar Aswad ditempelkan oleh Muhammad saw.

 

Leave a Reply