Konsekuensi Dari Dakwah Terang-Terangan

PERIODE MEKKAH

Jumlah muslimin yg masih sedikit yaitu kurang dari 50 orang di saat perintah dakwah terang-terangan pada awal tahun ke-4 nubuwah, tidak menyurutkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk terus menyiarkan syi’ar Islam.

Fitnah pun berhembus. Nabi pun dituduh sebagai pendusta, penyair, tukang sihir bahkan orang gila. Nabi dituduh sebagai orang yang intoleran dan pemecah persatuan dan persaudaraan yang telah terjalin diantara masyarakat Quraisy, hanya karena Nabi menyeru untuk menyembah Allah yang satu dan meninggalkan ilah selain Allah.

Suatu hari, Abu Thalib mendatangi Rasulullah dan berkata: “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kaummu telah mendatangiku dan berkata begini dan begini. Mereka mengancamku dan mengancam engkau. Janganlah engkau bebani aku dengan perkara yang tidak sanggup aku pikul.”

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab: “Aku tak kuasa meninggalkan hal itu, meskipun karenanya kalian akan meletakkan matahari di atasku.”

Abu Thalib pun berkata: “Teruskanlah wahai anak saudaraku dan katakan apa yang engkau anggap benar. Sekali-kali aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapapun.”

Keadaan pun semakin memanas. Musyrikin Quraisy selain menekan secara verbal juga mulai melancarkan gangguan secara fisik. Beberapa perlakuan keji kafir Quraisy dikisahkan di Al-Qur’an juga lewat hadits.

Perlakuan keji sepasang suami istri, Abul Uzza dan istrinya, Ummu Jamil diabadikan dalam QS. Al-Lahab.

Perbuatan keji lainnya dilakukan oleh Abu Jahal. Dia berniat memperdaya Rasulullah, tapi entah dia melihat apa, sehingga niat kejinya itu dia urungkan.

Abu Jahl saat itu berkata: “Demi Lata dan Uzza, jika aku melihatnya melakukan itu, sungguh aku akan injak lehernya, atau aku gosokkan wajahnya ke tanah,” lantas dia pun mendatangi Rasululloh yang sedang melakukan shalat, dan mengira dapat menginjak leher Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi tiba-tiba dia mundur sambil berlindung dengan kedua tangannya.

Kisah itu diabadikan pada QS.Al-Alaq:6-13 untuk diketahui generasi berikutnya untuk diambil pelajarannya.

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ ﴿٦﴾ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ ﴿٧﴾ إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الرُّجْعَىٰ ﴿٨﴾ أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ ﴿٩﴾ عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ ﴿١٠﴾ أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَىٰ ﴿١١﴾ أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَىٰ ﴿١٢﴾ أَرَأَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Rabbmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?”

Kisah keji lain pun diriwayatkan dalam Hadits Bukhari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash menuturkan:

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang melakukan shalat di serambi Ka’bah, tiba-tiba ‘Uqbah bin Abu Mu’ayith datang, lalu ia memegang pundak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lantas menjeratkan bajunya ke leher beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mencekiknya dengan keras. Abu Bakr Radhiallahu Anhh datang, lantas merengkuh pundak Uqbah al La’in dan mendorongnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berseru:

أَتَقْتُلُونَ رَجُلاً أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللهُ وَقَدْ جَاءَكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ مِنْ رَبِّكُمْ

“Apakah engkau akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan ‘Rabbku ialah Alloh’ padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu”.

Puncak dari kekejian musyrikin Quraisy terhadap Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu rencana pembunuhan yang menyebabkan Nabi harus hijrah ke Madinah.

Ibnu Abbas menceritakan: “Para pembesar Quraisy berkumpul di Hijr. Mereka bersumpah atas nama Lata, ‘Uzza dan Manat; jika melihat Muhammad, kami akan menyerangnya bersama-sama dan tidak akan meninggalkannya, sehingga kami berhasil membunuhnya.”

*Tekanan Pada Muslimin Yang Lemah*

Kekesalan dan kemarahan musyrikin Quraisy pun dilampiaskan pula pada muslimin yang lemah secara status sosial, yaitu para budak yang tidak memiliki pembela atau pelindung, seperti :

⚡Bilal bin Rabbah dan Ibunya (Hamamah)

⚡Ammar bin Yasir dan Kedua Orang Tuanya

⚡ Khabbab bin al Arat

⚡ ‘Amir bin Fuhairah

⚡ Nudzairah

⚡Ummu ‘Ubais

⚡an-Nahdiyah dan saudara perempuannya

⚡ Budak perempuan milik Bani ‘Amr bin Muammal

Leave a Reply