Dakwah Terang-Terangan

PERIODE MEKKAH

3 Tahun Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dakwah secara sembunyi-sembunyi, dan menurut pendapat Ibnu Ishaq, selama itu juga wahyu tidak turun. Cemoohan pun berdatangan, seperti yang diriwayatkan dalam HR. Bukhari berikut ini :

Jibril Alaihisallam tertahan (tidak kunjung datang) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata seorang wanita (Ummu Jamil) dari Quraisy : “Setannya terlambat datang kepadanya,” maka turunlah wahyu :

وَالضُّحَىٰ﴿١﴾وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ﴿٢﴾مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى

“Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi. Rabb-mu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.”

Maknanya ialah, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak meninggalkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak (pula) membencinya. Bahkan Allah tetap bersamanya, membimbingnya, dan meninggikan derajatnya setingkat demi setingkat.

Setelah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala itu, barulah wahyu turun secara bertahap tidak pernah putus dalam waktu lama lagi.

Dakwah terang-terangan pun kemudian diperintahkan, dengan turunnya wahyu :

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ (٩٤) إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ (٩٥)

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olok (kamu).” (QS. Al-Hijr:94-95)

Kemudian wahyu berikutnya juga turun :

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ (214) وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (215) فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ (216)

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kalian kerjakan.” (QS.Asy-Syu’araa:214-216)

Perasaan berat menerima perintah itu tentu ada, karena saat itu jumlah muslimin masih sangat minim.

Dukungan pun datang dari beberapa pamannya, walau sebetulnya mereka sendiri belum memeluk Islam.

Rasulullah kemudian menyeru keluarga besarnya di bukit Shafa, kemudian beliau menyeru : “Wahai Bani Fihr! Wahai Bani ‘Addi! dari suku Quraisy,” sampai mereka berkumpul.

Sampai-sampai jika ada seseorang yang berhalangan, beliau mengirimkan orang lain untuk memastikan apa yang terjadi. Datang pula diantara mereka Abdul Uzza, paman sekaligus besan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: “Bukankan aku telah memperlihatkan pada kalian semua, bahwasannya aku telah memberitahukan ada seseorang di lembah ini yang ingin merubah kehidupan kalian. Apakah kalian semua mempercayaiku?” Mereka serentak berucap, “Kami tidak pernah mendapatimu kecuali seorang yang jujur.” Maka Nabi pun menimpalinya kembali, “Sesungguhnya aku ini seorang pemberi peringatan kepadamu dari siksa yang pedih.” Mendengar itu semua, Abdul Uzza berkata, “Celakalah kau! Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”

Maka setelah itu turunlah wahyu :

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ
سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ
فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia! Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.” (QS.Al-Lahab:1-5)

Wahyu tersebut turun sebagai kabar buruk bagi perilaku tercela Abdul Uzza (Abu Lahab) dan istrinya (Ummu Jamil) yang menentang dakwah Islam.

Leave a Reply