Antara Ali Radhiallahu Anhu Dengan Kedua Orangtuanya

Sebelum perintah kewajiban sholat 5 waktu, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa sallam telah diperintahkan untuk menunaikan sholat malam.

“Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sholat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah a-Qur’an itu dengan perlahan-lah.” (QS. Muzzammil:1- 4)

Imam Syafi’i, Muqatil bin Sulaiman dan Ibnu Kîsân mendukung pendapat Aisyah radhiallahu anha yang menyatakan kewajiban sholat malam tersebut dihapus dengan turunnya kewajiban Shalat Lima Waktu, saat Isra Mi’raj pada tahun ke-10 nubuwah.

Ibnu Ishaq meriwayatkan, bila waktu sholat tiba, maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam beserta Ali bin Abi Thalib keluar menuju perbukitan di Mekkah secara diam-diam.

Pada suatu waktu, Abu Thalib, ayahanda Ali Radhiallahu anhu mendapati mereka yang sedang sholat.

Berkata Abu Thalib, “Wahai anak saudara laki-lakiku, agama apa yang sedang kalian anut ini?”

Rasulullah pun menjawab, “Ini adalah agama Allah, agama para malaikat-Nya, agama para Nabi-Nya dan agama bapak kita Ibrahim Alaihissalam”.

“Wahai anak saudara laki-lakiku, sesungguhnya aku tidak mampu meninggalkan agama nenek moyangku dan apa yang mereka kerjakan. Tetapi demi Allah, tidaklah sampai sesuatu kepadamu, yang kau benci kecuali aku senantiasa menolongmu,” ujar Abi Thalib.

Berkata pula Abu Thalib pada Ali, “Agama apa yang engkau ikuti ini, wahai anakku?”

Ali Radhiallahu anhu pun menjawab, “wahai ayahku, aku beriman kepada Allah dan kepada utusan Allah, dan aku membenatkan apa yang dibawanya, dan aku pun mengerjakan shalat bersamanya kepada Allah, dan aku mengikuti pimpinannya.”

Ayahnya pun berujar, “memang sebenarnya yang diserukan kepadamu itu tidak lain seruan kepada kebajikan, oleh karena itu, tetaplah engkau mengikutinya!”

Lain bapak, lain pula ibundanya Ali radhiallahu anhu.

Fathimah binti asad bin Hasyim adalah ibunda Ali. Beliau adalah salah seorang sahabiah yang tergolong pada assabiqunal awaluun, golongan awal masuk Islam.

Beliau adalah seorang wanita yang banyak sekali keutamaannya, diantaranya adalah :

☄ Saat Rasulullah shalallahu ‘alihi wa sallam dalam pengasuhan pamannya, Fatimahlah yang mendidik dan merawat beliau. Dan setelah dewasa pun Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sering mengunjungi Fatimah dan beristirahat di rumahnya.

☄ Ibnul Atsir- rahimahullah – menyebutkan, “Dia adalah wanita bani Hasyim pertama yang melahirkan bayi bani Hasyim, dan wanita bani Hasyim pertama yang melahirkan seorang khalifah.

☄ Ibu mertua yang menyayangi pada menantunya, Fatimah Az-zahra.

Ali ra, menceritakan, “Aku berkata kepada ibuku, ‘Bantulah Fathimah binti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam mengambil air dan urusan-urusan luar lainnya, agar dia (dapat) mengurus keperluan rumah seperti menggiling tepung dan membuat adonan.

☄ Memiliki kedudukan khusus di sisi Rasulullah, sehingga Nabi suka memberi hadiah padanya.

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ أُكَيْدِرَ دُومَةَ أَهْدَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَ حَرِيرٍ فَأَعْطَاهُ عَلِيًّا فَقَالَ شَقِّقْهُ خُمُرًا بَيْنَ الْفَوَاطِمِ

Dari Ali, bahwasannya Ukaidira Dumah pernah menghadiahkan selembar kain sutera kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau memberikannya kepada Ali seraya bersabda : “Potonglah kain sutera ini untuk dibuat kerudung, dan bagikanlah kepada para Fatimah. ” (yaitu Fatimah binti Rasulullah, Fatimah binti Asad; Ummu Ali bin Abu Thalib, dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Muthallib). [HR Bukhori, Muslim dan Nasa’i]

☄ Fatimah radhiallahu anha pun ikut hijrah ke Madinah dan wafat di sana. Dikisahkan oleh Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata: Ketika Fatimah binti Asad meninggal dunia, Rasullah datang menjenguknya lalu duduk sisi kepalanya. Beliau bersabda: “Semoga Allah menyayangimu wahai ibuku. Engkau adalah ibuku setelah ibu kandungku. Engkau rela lapar sementara aku engkau kenyangkan. Engkau rela tidak berganti pakaisn sementara engkau memberiku pakaian. Engkau rela tidak makan makanan enak sementara engkau memberiku makanan enak. Engkau lakukan itu semua semata-mata mengharap keridhaan Allah dan tempat di akhirat.”

Ketika penyiraman air pada jenazahnya, Nabi menuangkan air ke jasadnya dengan tangannya sendiri. Setelah itu beliau melepas gamis yang dipakainya lalu memakaikannya pada jenazah sebagai kafan.

Leave a Reply